Jumat, 06 Oktober 2017

Maunya Hati dan Logika

Pernahkah ketika hati bilang iya dan logika bilang jangan? Kalau kamu seorang perempuan pasti sering, apalagi perempuan yang pernah punya pengalaman tersakiti karena terbodohi sehingga memiliki kemauan untuk lebih bertindak menggunakan logika. Sepemikir-pemikirnya perempuan pasti intervensi perasaan tetap ada. Begitulah problema yang merupakan hukum alam dan ya, sekeras apapun perempuan berusaha karena memang ditakdirkan bersifat seperti itu maka akan sulit untuk merubahnya.

Pergolakan antara hati yang mengandung berjuta perasaan yang tidak bisa dijelaskan dengan rumus apapun, dengan logika yang bisa dipermainkan dengan cara apapun, sering kali membuat kita bingung harus ikut siapa. Contohnya yang menyangkut asmara dan masa depan. Salah satu permasalahan yang sering kali ditemui oleh remaja yang baru menginjak dewasa, tidak di kalangan wanita saja bahkan masalah yang satu ini juga banyak melanda kaum adam. Untuk urusan yang satu ini memang terlihat complicated alias ribet, namun sesungguhnya ribet tidak nya sesuatu itu bergantung pada pembawaan masing-masing penderita.

Tidak ada yang saklek harus mengedepankan logika atau perasaan dalam urusan ini, semua tergantung masing-masing pribadi. Untuk menyelesaikan pergolakan tersebut caranya adalah fokus pada definisi bahagia menurut diri sendiri. Temukanlah dengan memikirkan kembali hal apa yang sesungguhnya membahagiakanmu. Misal kamu cinta seseorang tapi dia bodoh, hati bilang "stay" tapi logika bilang "leave!", maka pikirkan lah mana yang membuatmu bahagia, bersama orang yang kamu cinta atau bersama orang yang cerdas? Jangan berfikir menginginkan orang yang kamu cinta dan cerdas terlebih dahulu karena itu berarti sama saja kamu tetap harus "leave!" karena orang yang kamu cinta itu tidak akan bisa menjadi cerdas. Kalau bahagiamu adalah bersama yang kamu cintai itu, maka berusahalah menerima dia apa adanya dan berusaha saling melengkapi kekurangan. Heloo lihatlah dirimu pasti ada saja kekurangan karena tiada yang sempurna di dunia ini, maka jangan menuntut mendapatkan yang sempurna pula. 

Ingat pikirkan kebahagiaan yang tidak hanya untuk di dunia, namun juga bahagia untuk di kehidupan setelah dunia fana ini. Misal kamu cinta tapi beda keyakinan, dan doi tidak mau mengikuti keyakinanmu, sedang di agamamu jelas mengharamkan pernikahan beda keyakinan, maka menangkanlah sang logika, karena kebahagiaan di dunia yang setelah ini lebih penting.

Mengedepankan perasaan bukanlah salah, namun ada kalanya kita perlu mengurangi porsinya agar kita tidak kalah dalam hidup ini, tidak salah dalam hidup ini. Maka bijak-bijaklah dalam memutuskan kapan kita harus mengalah dan tau perbedaan mengalah dengan kalah. Terutama kalah oleh nafsu, sangat merugikan.

Rabu, 10 Mei 2017

Hidup Merantau

Merantau adalah pilihan. Pilihan selalu mengandung resiko. Resiko harus dihargai keberadaannya karena kita sendiri yang mengizinkannya masuk dalam kehidupan kita. Malam ini saya putuskan menulis. Sedikit bercerita tentang yang saya rasakan saat ini, saya sedang sangat muak. Dengan apa atau siapa saja saya tidak tahu apalagi mencari jawaban dari "mengapa". Oke skip dengan pengetahuan ini mungkin pembaca bisa mengerti dan memaklumi sudut pandang subjektif saya.
Menjadi perantau artinya harus siap, siap menerima tantangan hidup mandiri yang sebenar-benarnya. Karena sejatinya yang kita miliki hanyalah keluarga dan Allah. Setelah jauh dari keluarga, satu-satunya yang kita punya adalah Allah. Namun tidak munafik, iman terkadang tidak sekuat itu untuk cukup bersyukur atas adanya Allah yang sedekat urat nadi kita. Sebagai makhluk sosial tentunya kita membutuhkan teman.Ternyata mudah saja mendapatkan teman, tapi sangat sulit untuk mendapatkan teman yang seperti keluarga yang tulus memberikan perhatian dan peduli. Pada akhirnya kita pasti akan tersadar bahwa sesungguhnya yang benar-benar kita miliki adalah keluarga dan Allah, maka dari itu kita harus memperkuat benteng sebelum diserang sakit hati karena kecewa. Manusia pada dasarnya hanya memikirkan yang terbaik untuknya tanpa peduli manusia lainnya, maka jangan berikan harapan kepada manusia, jangan pernah bergantung pada manusia lain, percayalah mereka akan menghianatimu, oh salah, percayalah mereka bisa kapan saja menghianatimu. Lakukanlah sendiri sebisa mungkin, sisanya Allah sudah atur.

Selasa, 28 Maret 2017

Perkenalan

Maaf ya kemarin aku pura-pura jadi Izzara. Padahal namaku khansa, Khansa Fadhila Ma'ali, biasa dipanggil Khansa (pakai K), Khansa (pakai خَ ), Khansa (pakai حَ ), atau Sasa. Untuk saat ini aku sedang senang dipanggil Khansa pakai حَ . Sebenarnya panggilan sasa sudah jarang aku pakai untuk perkenalan, tapi karena di perkuliahan banyak sekali yang meminta saya mengulang saat menyebutkan nama Khansa jadi saya pilih yang lebih simpel, sasa. Mm.. apalagi yaa, kalau banyak-banyak kasih info nanti jadi seneng dong yang baca. Gapapa lah pahala gitu. Aku 19 tahun saat menulis ini, dan masih 8 bulan lagi umurku 20, inshaAllah aamiin. Aku kuliah di UB fakultas Teknik campur Seni campur Kedokteran, jurusannya pendidikan dokter gigi, saat menulis ini aku semester empat. Asalku dari Jawa Tengah, di sebuah kota yang terletak diantara Solo dan Semarang, yaitu Salatiga. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Aku orangnya nggak galak kok, kecuali kalau anda macam-macam. Sampai di sini ada yang ingin ditanyakan? Kalau tidak ya sudah ya, aku pengen baca ppt. Boleh tanya di komen. Pasti ga berani? wkwkwkwkkwwkkw :v