Rabu, 10 Mei 2017

Hidup Merantau

Merantau adalah pilihan. Pilihan selalu mengandung resiko. Resiko harus dihargai keberadaannya karena kita sendiri yang mengizinkannya masuk dalam kehidupan kita. Malam ini saya putuskan menulis. Sedikit bercerita tentang yang saya rasakan saat ini, saya sedang sangat muak. Dengan apa atau siapa saja saya tidak tahu apalagi mencari jawaban dari "mengapa". Oke skip dengan pengetahuan ini mungkin pembaca bisa mengerti dan memaklumi sudut pandang subjektif saya.
Menjadi perantau artinya harus siap, siap menerima tantangan hidup mandiri yang sebenar-benarnya. Karena sejatinya yang kita miliki hanyalah keluarga dan Allah. Setelah jauh dari keluarga, satu-satunya yang kita punya adalah Allah. Namun tidak munafik, iman terkadang tidak sekuat itu untuk cukup bersyukur atas adanya Allah yang sedekat urat nadi kita. Sebagai makhluk sosial tentunya kita membutuhkan teman.Ternyata mudah saja mendapatkan teman, tapi sangat sulit untuk mendapatkan teman yang seperti keluarga yang tulus memberikan perhatian dan peduli. Pada akhirnya kita pasti akan tersadar bahwa sesungguhnya yang benar-benar kita miliki adalah keluarga dan Allah, maka dari itu kita harus memperkuat benteng sebelum diserang sakit hati karena kecewa. Manusia pada dasarnya hanya memikirkan yang terbaik untuknya tanpa peduli manusia lainnya, maka jangan berikan harapan kepada manusia, jangan pernah bergantung pada manusia lain, percayalah mereka akan menghianatimu, oh salah, percayalah mereka bisa kapan saja menghianatimu. Lakukanlah sendiri sebisa mungkin, sisanya Allah sudah atur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar